LINDUNG BURUK BAKUL

    Aku tinggal di Desa Buruk Bakul saat ini karena aku menikah dengan salah seorang gadis bernama Susanti Binti Jaafar. Aku sangat bahagia karena kampung istriku ini berada di tepi laut, tak jauh berbeda dengan kampung lahirku di Desa Lubuk Muda yang merupakan sebuah kampung yang terletak di Kualo Sungai Siak Kecil. Sedari kecil bermain dengan laot, berbekal pula pengetahuan tentang Ilmu Kelautan di Universitas Riau, berguru pula dengan Tuan Darwis Mohd Saleh (LSM PAB Bandar Bakau) Dumai, bergabung pula di NGO (KAR) bidang pemberdayaan masyarakat terkait perbaikan lingkungan, membuat kepercayaan diri semakin tinggi untuk membentangkan idealisme di kampung istri tercinta.



    Kepercayaan diri dan semangat untuk bercengkrama dengan laut selain disebabkan oleh latar belakang tersebut juga disebabkan oleh kerusakan yang terjadi di pesisir pantai wilayah Buruk Bakul akibat dampak abrasi. Ekosistem pesisir yang terdapat di Buruk Bakul didominasi oleh mangrove. Meskipun kondisinya masih terlihat baik, namun apabila tidak ada kegiatan Rehabilitasi dan konservasi yang dilakukan maka akan banyak hal buruk yang akan terjadi. Salah satunya adalah berkurangnya luas wilayah desa akibat abrasi yang nantinya bukan tidak mungkin laut akan berada di depan pintu belakang rumah saya dan lainnya. Dampak tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap berbagai bidang contohnya perikanan, yang mana mangrove yang dahulunya sebagai tempat mencari makan (Feeding ground), memijah (Spawning ground) dan pengasuhan (Nursery ground) berbagai biota laut akan menjadi hilang. Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap produktifitas perikanan di Selat Bengkalis. Pada kondisi itu nelayan akan semakin susah mencari ikan hingga ahirnya semakin sulit untuk menafkahi keluarganya.


 Dari segi lain misalnya dalam hal penyerapan carbon, terdegradasinya hutan mangrove akan memberikan sumbangan besar kepada meningkatnya pemanasan global. Buruk Bakul akan semakin hangat karena hutan gambutnyapun semakin hari semakin habis akibat penebangan liar, konversi lahan dan lain-lain. Singkatnya, jika permasalahan ini bisa diatasi dengan serangkaian aktifitas konservasi maka yang terjadi adalah kebalikannya yaitu luas wilayah tetap terjaga, sempadan pantai semakin kokoh, ikan semakin banyak, masyarakat hidup sehat dan ekonomi masyarakatpun otomatis akan meningkat dengan keterlibatan mereka didalam usaha-usaha yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Contohnya seperti terlibat didalam ekoswisata, budidaya,dan lainnya. 

    Setelah setahun lebih mendendangkan isu tersebut, pada tanggal 18 Januari 2019 terbentuklah suatu kelompok atas dukungan kawan-kawan yang sama-sama berkomitmen untuk menjaga dan membangun kampung khususnya dari bidang pemanfaatan sumberdaya alam. Sampai hari ini, secara swadaya kelompok masyarakat penggiat konservasi yang bernamakan Sekat Bakau ini masih eksis meski baru beberapa batang bakau saja yang tertanam. 


Khaidir air

Komentar

Posting Komentar