LINDUNG BURUK BAKUL
Aku tinggal di Desa Buruk Bakul saat ini karena aku menikah dengan salah seorang gadis bernama Susanti Binti Jaafar. Aku sangat bahagia karena kampung istriku ini berada di tepi laut, tak jauh berbeda dengan kampung lahirku di Desa Lubuk Muda yang merupakan sebuah kampung yang terletak di Kualo Sungai Siak Kecil. Sedari kecil bermain dengan laot, berbekal pula pengetahuan tentang Ilmu Kelautan di Universitas Riau, berguru pula dengan Tuan Darwis Mohd Saleh (LSM PAB Bandar Bakau) Dumai, bergabung pula di NGO (KAR) bidang pemberdayaan masyarakat terkait perbaikan lingkungan, membuat kepercayaan diri semakin tinggi untuk membentangkan idealisme di kampung istri tercinta.
Kepercayaan diri dan semangat untuk bercengkrama dengan laut selain disebabkan oleh latar belakang tersebut juga disebabkan oleh kerusakan yang terjadi di pesisir pantai wilayah Buruk Bakul akibat dampak abrasi. Ekosistem pesisir yang terdapat di Buruk Bakul didominasi oleh mangrove. Meskipun kondisinya masih terlihat baik, namun apabila tidak ada kegiatan Rehabilitasi dan konservasi yang dilakukan maka akan banyak hal buruk yang akan terjadi. Salah satunya adalah berkurangnya luas wilayah desa akibat abrasi yang nantinya bukan tidak mungkin laut akan berada di depan pintu belakang rumah saya dan lainnya. Dampak tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap berbagai bidang contohnya perikanan, yang mana mangrove yang dahulunya sebagai tempat mencari makan (Feeding ground), memijah (Spawning ground) dan pengasuhan (Nursery ground) berbagai biota laut akan menjadi hilang. Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap produktifitas perikanan di Selat Bengkalis. Pada kondisi itu nelayan akan semakin susah mencari ikan hingga ahirnya semakin sulit untuk menafkahi keluarganya.
Setelah setahun lebih mendendangkan isu tersebut, pada tanggal 18 Januari 2019 terbentuklah suatu kelompok atas dukungan kawan-kawan yang sama-sama berkomitmen untuk menjaga dan membangun kampung khususnya dari bidang pemanfaatan sumberdaya alam. Sampai hari ini, secara swadaya kelompok masyarakat penggiat konservasi yang bernamakan Sekat Bakau ini masih eksis meski baru beberapa batang bakau saja yang tertanam.
Khaidir air


Mantap ketua..
BalasHapusSiap ngah
BalasHapusBedelaw boy... Lanjut kan... Kalau bukan awak sapo lak lgi
BalasHapusLanjutkan,, ����
BalasHapusLanjutkan,, 👍👍
BalasHapusMantap guru💪
BalasHapusMantap ketua
BalasHapusMakasih atas dukungannya kawan-kawan.
BalasHapusMantab ngah
BalasHapusMantab ngah
BalasHapusMantap ketua
BalasHapusbedelaw
BalasHapus