SEKAT BAKAU GO INTERNTIONAL
Sesampainya di Pelabuhan Muar Malaysia, rombongan langsung disambut dengan hangat oleh Tuan Raj dan Nazeri serta teman-teman Global Environment Center (GEC). GEC merupakan suatu lembaga non profit (NGO) Malaysia yang bekerjasama dengan Yayasan Gambut dalam menjalankan program Sekat Bakau yang didanai oleh Aramco Asia Singapore. Setelah makan siang bersama, dengan menggunakan Bus rombongan segera meninggalkan Pelabuhan Muar menuju Pelabuhan Tanjung Belungkor dengan perjalan selama lebih kurang 3-4 jam. Tiba di Pelabuhan Tanjung Belungkor hari sudah senja, setelah berfoto bersama rombongan segera menaiki speed boat menuju Pulau Tanjung Surat. dalam pekatnya malam, sunyi malam mulai terasa, tak terdengar lagi kicauan burung di lebatnya mangrove, yang ada hanya suara mesin dan riak air yang mengiring kisah hari itu. "Seperti di Film-Film" ungkap Pak Camat Acil Asyno.
Setelah lebih kurang 20 menit berlayar tibalah rombongan di rumah akit dimana rombongan akan menginap. Malam itu merupakan awal dari pertemuan rombongan sekat bakau dengan pertubuhan sahabat hutan bakau pulau tanjung surat. Selaku Fasilitator Tuan Raj membuka sesi ramah tamah untuk perkenalan diri dan lembaga masing-masing. selaku tuan rumah, ketua pertubuhan sahabat hutan bakau puan badariah mengucapkan selamat datang dan sedikit bercerita tentang pahit manis perjalanan kelompoknya sebelum dan setelah masuknya GEC. "sudah banyak lembaga dan instansi yang datang dan pergi kemari, namun sangat berbeda ketika setelah GEC masuk, mereka senantiasa mendampingi kami hingga pihak kerajaanpun mampu membuka mata dan baru-baru ini telah membantu RM 1.000.000 untuk pengembangan kelompok kami". tepuk tangan meriahpun memecah keheningan malam itu.Selanjutnya Tuan Raj mempersilahkan kepada saudara Mulyadi selaku Direktur Yayasan Gambut. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ribuan terima kasih kepada ketua kampung dan sahabat hutan bakau yang telah menyambut hangat kedatangan rombongan. "kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat, dimana harapannya kelompok sekat bakau maupun KWT Makmur Jaya dapat belajar bagaimana pengelolaan mangrove yang baik". beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada GEC yang telah bersedia berkolaborasi dan memfasilitasi program di Buruk Bakul bersama Kelompok Sekat Bakau. selain itu beliau juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa buruk bakul dan kecamatan bukit batu serta bahtera melayu yang sudi mendampingi kelompok sekat bakau.
setelah sekian lama bercerita tentang pengalamannya mendampingi banyak kelompok di bengkalis hingga dianugerahi Kalpataru, mixropon ahirnya sampai ke tangan Khaidir air selaku ketua kelompok Sekat Bakau. setelah menyampaikan ucapan terima kasih kepada tuan rumah, lembaga pelaksana dan penaja, KWT Makmur Jaya serta pihak pemerintah yang ikut dalam rombongan, beliau selanjutnya mengisahkan hal yang sama dialami oleh puan Badariah. Cemooh, ejekan dan hal pahit lainnya dianggap sebagai pelengkap perjalanan. "sebelum mendirikan sekat bakau, saya sudah siap dengan hal itu semua. sebagai anak laut yang dibekali ilmu pengetahuan dan pengalaman, saya hanya mencoba membentangkan idealisme saya terkait bagaimana potensi mangrove yang ada suatu hari kelak dapat menjadi tumpuan perekonomian masyarakat setempat bila dikelola secara arif. menjadikan kelompok peduli lingkungan bukanlah hal mudah karena segala bentuk kegiatan yang dilakukan tidak berdampak langsung pada pelaku. yang ada hanya membuang energi, tenaga, pikiran bahkan materi kita sendiri. pada awalnya, kami hanya berdua dan kemudian berangsur semakin ramai seiring perubahan-perubahan positif yang kami bawa ke desa. kami membuka pintu bagi siapa saja yang mau membantu kami mewujudkan mimpi kami".




Komentar
Posting Komentar